11 Maret? apa yang kalian pikirkan tentang hari ini? mungkin bagi sebagian mahasiswa, dosen, rektor dan universitas saya ini adalah hari jadi Universitas Sebelas Maret tempat dimana aku menempuh studi. Ya di saat disana terdengar hingar bingar perayaan Dies Natalis entah mengapa tapi aku tidak merasakan benar kebahagiaan itu. Bukan karena apa, tapi bagiku hari ini adalah hari yang bisa dikatakan ada aroma sedihnya. Taukah ini adalah hari ulang tahun almarhumah kakakku, ia bernama Mareta.
Kali ini aku ingin sedikit bercerita tentangnya, ia bisa dibilang adalah sosok kebanggaan keluarga kami. Ia pintar, manis, supel, ramah, ceria, ketulusan dan keikhlasan hatinya yang boleh dikata luar biasa, pribadinya yang sangat baik dan tipe pekerja kerasnya itulah yang semakin membuat kebanggaan kedua orang tuaku. Kalo bisa dideskripsikan dia adalah salah satu sosok yang sempurna untukku. Sebagai kakak ia sangat bertanggung jawab pada adik-adiknya dan sebagai anak ia sangat luar biasa selalu berusaha membahagiakan kedua orang tuaku. Salah satu hal yang sangat kuingat, waktu itu aku masih duduk di bangku SD menjelang hari ulang tahunku. Ia menanyakan padaku kado apa yang sangat kuinginkan, lalu dengan penuh semangat kutulis semua daftar barang yang aku inginkan yang kutau barang-barang tersebut tidak murah. Tapi ternyata keesokan saat hari ulang tahunku ia membelikan barang-barang yang aku inginkan tersebut dan menyelipkan note yang berisi ucapan selamat ulang tahun dan pesan agar tidak nakal lagi. Haha bisa dibilang saat kecil aku sangat nakal dan bandel, susah sekali diatur oleh kakak-kakakku. Tapi mbak Eta (nama panggilannya) selalu sabar menghadapiku, ketika aku dalam keadaan salah ia tidak akan segan memarahiku. Tapi jika ia tau aku dalam konteks benar, ia akan selalu membantuku dengan segala ketulusan hatinya. Satu waktu yang membuatku ingin menangis mengingatnya, saat itu aku pernah hampir kena pukul, pada saat semua hanya bisa melihatku dalam keadaan seperti itu dan tidak mampu untuk membantu, mbak Eta tiba-tiba lari memelukku melindungiku agar tidak kena pukul dan menghentikannya. Saat itu saya benar-benar merasa dialah orang yang sangat berarti dalam kehidupanku. Dia seperti seorang malaikat yang selalu ada untukku tiap kali ku membutuhkannya, yaa aku sangat bergantung padanya. Tiap kali aku menemui kesulitan selalu melapor pada mbak Eta meminta tolong padanya, dan ia pun selalu memberikan solusi dan bantuan. Ketika aku ingin barang aku lebih suka meminta padanya, ketika ingin jajanpun juga demikian. Padahal kami bertiga telah diberi jatah sama rata, tapi entah mengapa uang sakuku selalu habis duluan tanpa jejak. Dia sering mengecek isi dompetku kalo kosong ia sering menyelipkan tambahan untukku, dan selalu berpesan "nik, dompet tuh jangan kosong, isilah sekalipun receh nanti rejeki pasti akan cepat dateng". Itulah yang selalu kuingat sampai sekarang dan masih banyak hal yang sulit kuceritakan karena begitu banyak kebaikan yang telh dilakukannya.
Tahun pun berlalu, hingga suatu saat yang terberat bagi kami sekeluarga, saat itu aku kelas 2 SMA, mbak Eta mendadak menderita suatu penyakit dalam dimana salah satu organ pentingnya tidak berfungsi dengan baik. Ia keluar masuk rumah sakit, menjalani opname dan berbagai macam pengobatan yang mungkin sangat sakit rasanya namun satu hal yang selalu kuingat dia begitu tegar da tulus ikhlas menjalani kehidupannya sekalipun itu berat baginya . Dia jarang sekali menunjukan kesakitannya di depan orang lain, ia selalu tertawa dan tertawa seakan ia seperti dalam keadaan yang baik-baik saja. Ia selalu bilang bahwa “Iam not sick Iam oke, so I don’t need others poor of me” . Ia tidak pernah menyerah dengan sakitnya sekalipun mungkin ia tahu bahwa hidupnya mungkin tidak lama. Tapi saat itu aku masih terlalu kekanakan sehingga tidak menyadari hal itu, yang kupikirkan saat itu paling besok juga sembuh, ga kebayang sedikitpun kalo ini penyakit parah.Ketika kakakku di opname-pun aku jarang menjenguknya karena jujur aku termasuk kategori orang yang trauma dengan rumah sakit. Dan kakakku tau itu, dia tidak pernah mempermasalahkannya. Saat dirumah sakit ia masih selalu mengingatku ia sering menelepon dan menanyakan keadaanku apakah sudah makan belum, apa yang sedang dilakukan dan bercanda ria seakan dia dalam keadaan sehat. Saat itu di antara orang serumah, ternyata hanya aku yang tidak tau apa-apa tentang diagnosa penyakit dan kemungkinan kehidupannya. Ternyata orang tua dan juga kakakku yang satunya telah mengetahui bahwa kemungkinan sembuh dari penyakit ini dibawah 50%. Itulah alasan mengapa orang tuaku giat sekali menyenang-nyenangkan hatinya, memenuhi semua yang dia inginkan. Jahatnya diriku, karena aku tidak tau apa-apa aku pernah menanggap orang tua pilih kasih, hanya kakakku yang disayang sedang aku tidak.
Hingga sampai akhirnya, saat itu tanggal 2 November 2008, kakakku pergi untuk selama-lamanya. Baru saat itu aku menyadari semua kesalahan, keegoisan, kekanakanku selama ini padanya. Sangat kusesali aku belum bisa membalas semua kebaikannya selama ini, aku belum mampu membahagiakannya sekalipun di waktu-waktu terakhirnya. Mengapa?mengapa aku sejahat ini padanya? mengapa aku tidak pernah bisa membahagiakannya seperti dia membahagiakanku? Yah sekalipun harus begini ada pelajaran yang bisa kuambil, Allah menyayangi mbak Eta itulah mengapa Allah mengambilnya dengan cepat dan mungkin dengan cara ini Allah menegurku untuk memperbaiki diri menjadi pribadi lebih baik. Satu hal yang sangat kusyukuri aku pernah bertemu dan berkesempatan memiliki kakak sepertinya almarhumah "Mareta”. Selamat ulang tahun mbak Eta :) terima kasih kakakku tersayang, kau telah melalui hidup dengan sukses, kami semua mencintaimu dan kado yang hanya bisa kami berikan adalah kiriman untaian-untaian doa agar kau tenang disana :'). Happy Birthday my deceased sister, i really really love you...





