wanny. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Tulus Ikhlas

Ketulusan dan keikhlasan adalah ketika memberi suatu kebaikan kepada orang lain tanpa ada rasa pamrih dan ingin mendapat imbalan. Itu yang memang selalu diajarkan dan ditanamkan orang tua dalam mendidik saya selama ini, dan semakin dewasa saya mulai belajar apa itu sebuah ketulusan yang sebenarnya.

Dalam kehidupan sering saya dapati orang-orang yang suka mengumbar-umbar suatu hal terutama kebaikan yang telah mereka lakukan agar supaya orang lain menganggap mereka sebagai seorang yang tulus, yah sejenis pencitraan seperti itulah. Saya tidak menyalahkan apa yang mereka lakukan, sekiranya memang baik dan bertujuan baik yaitu untuk memotivasi orang lain agar selalu berbuat kebaikan itu  sah-sah saja dan malah itu patut untuk diacungi jempol. Namun lain halnya if they're just building their image yah ibarat sekedar pencitraan agar orang melihat “ooh ni orang kok baik buangeet yaaa” selepas itu ternyata yah cuma baik luarnya aja dalemnya hmmm not good enough personality.

Saya dulu tipe yang tidak terlalu mempedulikan apa itu yang namanya ketulusan, apa itu yang namanya sebuah keikhlasan karena yah selain usia yang masih begitu dini masih kekanakan, belum banyak yang bisa dipelajari, ibarat kata masih kurang pengalaman dan emang dasar guenya terlalu cuek bebek hahaha. Eits back to the point , tapi semenjak saya dewasa semakin lama saya mulai mengerti dan memahami ketulusan yang sesungguhnya. Satu hal yang selalu saya ingat sekali sampai saat ini yang menyadarkan betapa ketulusan itu sangat berarti dalam sebuah kehidupan. Suatu waktu saya pergi bermain dengan teman saya, tapi ketika akan pulang tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Saat itu hanya satu set mantel hujan sedang kita sedang berboncengan saat itu. Teman saya dengan cepat memberikan mantelnya untuk saya tanpa memikirkan dirinya yang kebasahan, mungkin itu hal kecil baginya tapi itu hal besar untuk saya. Karena saya tidak pernah menemukan sahabat setulus dia yang lebih mementingkan kesehatan kawannya dibanding kesehatan dirinya sendirinya. Bukan sekali dua kali dia berkorban untuk saya, berkali-kali bahkan yang saya pun mungkin sudah lupa saking banyaknya. Tapi satu hal yang selalu saya ingat sekali dalam kehidupan saya, ketika dia mengorbankan perasaanya di depan saya. Saat itu adalah hari meninggalnya kakak saya, selisih satu hari dengan meninggalnya ayahnya. Saya kira dia tidak akan datang karena ayahnya baru dimakamkan sehari sebelumnya, saya tau bagaimana sedihnya hatinya kehilangan ayah yang dicintainya. Tapi tak disangka ternyata dia datang bersama sahabat-sahabat saya yang lain, dan hebatnya dia bisa menahan tangisnya dan menghibur saya dengan riang seakan dia dalam keadaaan baik-baik saja. Sekalipun mungkin dia harus memaksakan hatinya untuk menguatkan hati saya yang sangat down kehilangan kakak, sungguh saya benar-benar salut padanya tidak semua orang mampu melakukan hal itu. Disitulah saya begitu sadar ketulusan dan keikhlasan seseorang itu tidak bisa direkayasa, itu memang pribadi baik yang sudah melekat dalam diri seorang manusia. Semenjak itu saya mulai benar-benar memahami seperti apa itu tulus, ikhlas dalam lika liku kehidupan. Saya bertemu dengan bermacam karakter manusia dari “yang hanya datang pergi”, ”datang dan tetap tinggal” sampai dengan “yang hanya sekedar singgah saja” yah inilah pembelajaran untuk saya.

Saya pernah mendengar cerita, ada seorang lelaki yang mengumbar kata-kata manisnya tentang ketulusan cinta, sayang dan lain sebagainya. Namun dalam prakteknya yang ia lakukan hanya menuntut ini itu, mengubah seseorang menjadi seperti yang ia inginkan, menginginkan segala sesuatu berjalan sesuai dengan imajinasi otaknya. Terkesan seperti obsesi atas kepemilikan seorang wanita yang mengatas namakan ketulusan. Saya ngeri juga mendengarnya, menyatakan tulus mencintai tapi ketika suatu ketika cintanya harus bertepuk sebelah tangan tiba-tiba lelaki tersebut layaknya monster yang tiba-tiba berubah, secara mengejutkan menghujat dan memfitnah si wanita sedemikian rupa. Saya mulai berpikir seperti inikah manusia yang picik, yang mengumbar-umbar  ketulusan sebelumnya tapi ketika dihadapkan pada kenyataan yang ada, ia tidak bisa dengan ikhlas menerima sehingga hanya umpatan sumpah serapah yang ia mampu ucapkan. Saya mulai berpikir seperti inikah orang yang tulus? Sungguh saya menolak mentah-mentah premis ini, setau saya yang namanya sayang atau cinta secara tulus kepada sesama tidak pernah ada kata memberi dengan harap kembali. Bagi saya pun juga berlaku demikian, menyayangi sesama secara tulus dan ikhlas itu ketika kita bisa menerima segala keadaan dirinya baik dan buruknya tanpa menuntut ini itu dan memberikan segala kebaikan yang kita bisa untuknya tanpa pamrih dan harap kembali. Menurut saya itulah ketulusan yang sesungguhnya, memberikan segala yang kita mampu untuk membahagiakan mereka. Tidak peduli akan dibalas ataupun tidak karena semua pasti ada yang mengatur kita sebagai manusia hanya berusaha melakukan yang terbaik, karena ketulusan adalah memberi kalo memang ada niat terselubung ingin mengharap kembali saya kira itu bukan “tulus” tapi “barter” namanya.

Saya selalu percaya ketika kita selalu bersyukur atas segala keadaan kita dalam realita hidup ini, baik itu senang atau sedih dan kita bisa menerimanya secara ikhlas serta diiringi dengan ketulusan niscaya hidup itu benar-benar terasa indah dan damai. Saya sangaaat percaya itu, karena Allah SWT pada hakekatnya mencintai umatnya yang selalu meliputi hidupnya dengan ketiga hal tersebut (bersyukur, ikhlas, tulus). Kebaikan itu selalu hadir bagi siapapun yang berbuat kebaikan, maka hiduplah dalam kebaikan dengan kebaikan dan untuk kebaikan.

Disini saya begitu beruntung memiliki sahabat-sahabat yang tulus pada saya yang selalu ada untuk saya dalam suka ataupun duka, mereka tidak pernah menilai saya dari sudut siapa dan apa diri saya, tapi benar-benar menerima seperti inilah saya. Itulah hal terpenting dalam hidup menerima tanpa menuntut apa-apa. Aah satu hal saya juga sangat bersyukur saat ini telah dipertemukan dengan seorang lelaki yang begitu tulus terhadap saya, dia bagian terpenting dalam hidup saya yang memberikan banyak kebaikan pula untuk diri saya. Saya bahagia berada di tengah keluarga dan orang-orang hebat seperti mereka yang benar-benar memiliki ketulusan hati untuk mendampingi saya.
Yeah this just about my point of view tentang dua buah kata ajaib bagi saya yaitu “tulus” dan “ikhlas” . 
see yaaa J

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar