Ketulusan dan keikhlasan adalah
ketika memberi suatu kebaikan kepada orang lain tanpa ada rasa pamrih dan ingin
mendapat imbalan. Itu yang memang selalu diajarkan dan ditanamkan orang tua
dalam mendidik saya selama ini, dan semakin dewasa saya mulai belajar apa itu
sebuah ketulusan yang sebenarnya.
Dalam kehidupan sering saya
dapati orang-orang yang suka mengumbar-umbar suatu hal terutama kebaikan yang
telah mereka lakukan agar supaya orang lain menganggap mereka sebagai seorang
yang tulus, yah sejenis pencitraan seperti itulah. Saya tidak menyalahkan apa
yang mereka lakukan, sekiranya memang baik dan bertujuan baik yaitu untuk
memotivasi orang lain agar selalu berbuat kebaikan itu sah-sah saja dan malah itu patut untuk
diacungi jempol. Namun lain halnya if
they're just building their image yah ibarat sekedar pencitraan agar orang
melihat “ooh ni orang kok baik buangeet yaaa” selepas itu ternyata yah cuma
baik luarnya aja dalemnya hmmm not good
enough personality.
Saya dulu tipe yang tidak terlalu
mempedulikan apa itu yang namanya ketulusan, apa itu yang namanya sebuah
keikhlasan karena yah selain usia yang masih begitu dini masih kekanakan, belum
banyak yang bisa dipelajari, ibarat kata masih kurang pengalaman dan emang
dasar guenya terlalu cuek bebek hahaha. Eits back to the point , tapi semenjak saya dewasa semakin lama saya
mulai mengerti dan memahami ketulusan yang sesungguhnya. Satu hal yang selalu
saya ingat sekali sampai saat ini yang menyadarkan betapa ketulusan itu sangat
berarti dalam sebuah kehidupan. Suatu waktu saya pergi bermain dengan teman
saya, tapi ketika akan pulang tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Saat itu
hanya satu set mantel hujan sedang kita sedang berboncengan saat itu. Teman saya
dengan cepat memberikan mantelnya untuk saya tanpa memikirkan dirinya yang
kebasahan, mungkin itu hal kecil baginya tapi itu hal besar untuk saya. Karena saya
tidak pernah menemukan sahabat setulus dia yang lebih mementingkan kesehatan
kawannya dibanding kesehatan dirinya sendirinya. Bukan sekali dua kali dia
berkorban untuk saya, berkali-kali bahkan yang saya pun mungkin sudah lupa
saking banyaknya. Tapi satu hal yang selalu saya ingat sekali dalam kehidupan
saya, ketika dia mengorbankan perasaanya di depan saya. Saat itu adalah hari
meninggalnya kakak saya, selisih satu hari dengan meninggalnya ayahnya. Saya
kira dia tidak akan datang karena ayahnya baru dimakamkan sehari sebelumnya, saya
tau bagaimana sedihnya hatinya kehilangan ayah yang dicintainya. Tapi tak
disangka ternyata dia datang bersama sahabat-sahabat saya yang lain, dan
hebatnya dia bisa menahan tangisnya dan menghibur saya dengan riang seakan dia
dalam keadaaan baik-baik saja. Sekalipun mungkin dia harus memaksakan hatinya
untuk menguatkan hati saya yang sangat down
kehilangan kakak, sungguh saya benar-benar salut padanya tidak semua orang mampu
melakukan hal itu. Disitulah saya begitu sadar ketulusan dan keikhlasan seseorang
itu tidak bisa direkayasa, itu memang pribadi baik yang sudah melekat dalam
diri seorang manusia. Semenjak itu saya mulai benar-benar memahami seperti apa
itu tulus, ikhlas dalam lika liku kehidupan. Saya bertemu dengan bermacam karakter
manusia dari “yang hanya datang pergi”, ”datang dan tetap tinggal” sampai
dengan “yang hanya sekedar singgah saja” yah inilah pembelajaran untuk saya.
Saya pernah mendengar cerita, ada
seorang lelaki yang mengumbar kata-kata manisnya tentang ketulusan cinta,
sayang dan lain sebagainya. Namun dalam prakteknya yang ia lakukan hanya
menuntut ini itu, mengubah seseorang menjadi seperti yang ia inginkan,
menginginkan segala sesuatu berjalan sesuai dengan imajinasi otaknya. Terkesan seperti
obsesi atas kepemilikan seorang wanita yang mengatas namakan ketulusan. Saya ngeri
juga mendengarnya, menyatakan tulus mencintai tapi ketika suatu ketika cintanya
harus bertepuk sebelah tangan tiba-tiba lelaki tersebut layaknya monster yang
tiba-tiba berubah, secara mengejutkan menghujat dan memfitnah si wanita
sedemikian rupa. Saya mulai berpikir seperti inikah manusia yang picik, yang
mengumbar-umbar ketulusan sebelumnya tapi
ketika dihadapkan pada kenyataan yang ada, ia tidak bisa dengan ikhlas menerima
sehingga hanya umpatan sumpah serapah yang ia mampu ucapkan. Saya mulai
berpikir seperti inikah orang yang tulus? Sungguh saya menolak mentah-mentah
premis ini, setau saya yang namanya sayang atau cinta secara tulus kepada
sesama tidak pernah ada kata memberi dengan harap kembali. Bagi saya pun juga
berlaku demikian, menyayangi sesama secara tulus dan ikhlas itu ketika kita
bisa menerima segala keadaan dirinya baik dan buruknya tanpa menuntut ini itu
dan memberikan segala kebaikan yang kita bisa untuknya tanpa pamrih dan harap
kembali. Menurut saya itulah ketulusan yang sesungguhnya, memberikan segala
yang kita mampu untuk membahagiakan mereka. Tidak peduli akan dibalas ataupun
tidak karena semua pasti ada yang mengatur kita sebagai manusia hanya berusaha
melakukan yang terbaik, karena ketulusan adalah memberi kalo memang ada niat
terselubung ingin mengharap kembali saya kira itu bukan “tulus” tapi “barter”
namanya.
Saya selalu percaya ketika kita
selalu bersyukur atas segala keadaan kita dalam realita hidup ini, baik itu
senang atau sedih dan kita bisa menerimanya secara ikhlas serta diiringi dengan
ketulusan niscaya hidup itu benar-benar terasa indah dan damai. Saya sangaaat
percaya itu, karena Allah SWT pada hakekatnya mencintai umatnya yang selalu
meliputi hidupnya dengan ketiga hal tersebut (bersyukur, ikhlas, tulus). Kebaikan
itu selalu hadir bagi siapapun yang berbuat kebaikan, maka hiduplah dalam
kebaikan dengan kebaikan dan untuk kebaikan.
Disini saya begitu beruntung memiliki sahabat-sahabat yang tulus pada
saya yang selalu ada untuk saya dalam suka ataupun duka, mereka tidak pernah
menilai saya dari sudut siapa dan apa diri saya, tapi benar-benar menerima
seperti inilah saya. Itulah hal terpenting dalam hidup menerima tanpa menuntut
apa-apa. Aah satu hal saya juga sangat bersyukur saat ini telah dipertemukan
dengan seorang lelaki yang begitu tulus terhadap saya, dia bagian terpenting
dalam hidup saya yang memberikan banyak kebaikan pula untuk diri saya. Saya bahagia
berada di tengah keluarga dan orang-orang hebat seperti mereka yang benar-benar
memiliki ketulusan hati untuk mendampingi saya.
Yeah this just about my point of
view tentang dua buah kata ajaib bagi saya yaitu “tulus” dan “ikhlas” .
see
yaaa J






0 komentar:
Posting Komentar